5 Fakta Menarik tentang Buku

1. Bibliosmia

Bila memandang perkataan bibliosmia kamu tentu langsung terkenang dengan sebutan bibliofilia, bukan? Bibliosmia sendiri merupakan sebutan yang yang merujuk pada aroma khas novel yang kerap kita mencucup. Sebagian orang apalagi merasa jika bibliosmia merupakan bagian berarti dari pengalaman membaca novel raga, yang tidak hendak bisa ditemui di dalam e- book.

Pengarang roman distopia populer Fahrenheit 451, Ray Bradbury, apalagi sempat mengatakan kalau,” Tidak terd

apat era depan buat e- book sebab itu tidaklah novel; sebab e- book beraroma semacam gasolin yang dibakar.”

Suatu survey yang dicoba pada tahun 2015 oleh For Reading Addicts di Inggris merumuskan jika cuma 10% responden yang lebih menggemari e- book dari novel lazim, sedangkan 71% reponden apalagi tidak sempat memakai e- book sama tua hidupnya.

Bagi riset, bau yang kerap kita kaitkan dengan buku- buku raga diakibatkan oleh penguraian senyawa kimiawi di dalam kertas. Oleh sebab itu, novel terkini serta novel lama mempunyai bau yang berlainan. Untuk beberapa orang, tiap novel mempunyai baunya sendiri, yang membuktikan kemurnian serta karakteristik khas kertas ataupun percetakan khusus.

2. Bibliophobia

Sebagian orang bisa jadi menyangka jika membaca novel merupakan satu kegemaran kesukaan mereka, sebaliknya yang lain mengatakan diri mereka sendiri” bibliofilia” ataupun seseorang kutu novel yang amat menyayangi novel. Tetapi, nyatanya terdapat pula kekhawatiran ataupun fobia yang tidak lazim kepada novel serta membaca, yang diucap bibliophobia.

Untuk mereka yang mempunyai bibliophobia, mereka bisa jadi hendak khawatir dengan isi novel, menggenggam novel, terletak di dalam bibliotek, ataupun apalagi membaca novel dengan keras. Pertanda yang kerap timbul merupakan bergetar, berkeringat serta meratap. Hingga dikala ini, pangkal pemicu bibliophobia sedang belum dikenal.

Tidak hanya itu, ada pula sub- jenis dari bibliophobia tercantum” mitosofobia,” ialah kekhawatiran kepada statment ilegal serta” metrofobia” yang ialah kekhawatiran kepada syair. Berlainan 180 bagian dengan bibliophobia, seseorang yang mempunyai abibliophobia malah khawatir hendak kehilangan novel ataupun perihal buat dibaca.

3. Novel awal yang ditulis pada mesin ketik

Nyaris seluruh ahli sejarah sepakat jika Life on the Mississippi( 1882) buatan Mark Twain merupakan dokumen awal yang ditulis pada mesik ketik serta dikirimkan ke pencetak.

Dalam otobiografinya, Mark Twain tidak cuma membanggakan kalau,” Aku merupakan orang awal di bumi yang sempat mempunyai telepon di rumahnya,” namun pula,” Aku merupakan orang awal di bumi yang mengenalkan mesin ketik pada bumi kesusastraan.”

Dalam bukunya, Mark Twain tidak terencana mengatakan jika The Adventures of Tom Sawyer( 1876) merupakan novel pertamanya yang ditulis pada mesin ketik serta diterbitkan. Tetapi, ahli sejarah mesin ketik Darryl Rehr membetulkan kenyataan jika Life on the Mississippi, yang ditulis dengan Remington Nomor. 2, merupakan novel awal yang ditulis dengan mesin ketik.

4. Novel sangat populer

Alkitab merupakan novel terlaris sejauh era, walaupun jumlah nyatanya belum bisa dihitung. Tetapi, suatu survey yang diadakan oleh Bible Society berkata kalau lebih dari 2, 5 miliyar kopi Alkitab sudah terjual di antara tahun 1815 serta 1975. Pastinya, jumlah ini lalu berkeluk dobel semenjak dikala itu.

Jumlah ini amat luar biasa, mengenang Alkitab sendiri awal kali diterbitkan pada tahun 1450- an. Bandingkan dengan seri Harry Potter yang awal kali diterbitkan pada tahun 1997, di mana pada Januari 2020 seri itu sudah terjual lebih dari 500 juta kopi.

Alkitab bisa jadi dilarang di 52 negeri, walaupun perihal itu tidak menghentikannya buat jadi novel sangat terkenal sejauh era. Sebaliknya Harry Potter senantiasa jadi salah satu roman yang sangat dilarang di Amerika sebab berhubungan dengan rujukan guna- guna, jampi- jampi serta sumpah, yang pastinya berlawanan dengan kebijaksanaan Gereja Kristen.

5. Novel termahal

Pada tahun 1994, Bill Gates membeli buatan Leonardo da Vinci, Codex Leicester, dengan harga 30, 8 juta dolar Amerika, menjadikannya novel sangat mahal yang sempat dibeli. Codex Leicester sendiri dikenal semacam itu sebab awal kali dibeli pada tahun 1700- an oleh Earl of Leicester.

Novel itu setelah itu dijual ke seseorang kolektor seni pada 1980 saat sebelum Bill Gates menyudahi buat membelinya. Bagaikan seseorang penggemar berat Leonardo da Vinci, Gates melaporkan:

” Kita hidup di era Wikipedia serta YouTube, alhasil kita bisa melegakan rasa penasaran kita dengan gampang. Tetapi, sangat ironis kalau kita sedang bisa terpesona dengan suatu masterpiece yang terbuat oleh seseorang laki- laki yang hidup 500 tahun yang kemudian.”

Sehabis Gates membeli novel itu, beliau juga memindai tiap tamannya serta membuat tipe digital dari Codex Leicester yang saat ini bisa diamati dengan cara online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *