Bisa Mengubah DNA, Benar Nggak Sih? Ini 5 Fakta Vaksin COVID-19

Bisa Mengubah DNA, Benar Nggak Sih? Ini 5 Fakta Vaksin COVID-19

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memaparkan lebih dari satu fakta mengenai vaksin COVID-19 melalui web resminya. Hal ini berkenaan bersama beraneka pertanyaan dan hoax mengenai vaksin COVID-19 yang banyak beredar di internet.

Salah satunya, mengenai vaksin COVID-19 menyebabkan seseorang terinfeksi virus Corona. Dalam web resminya CDC membantah hal selanjutnya gara-gara vaksin COVID-19 yang sudah direkomendasi dan dikembangkan tidak tersedia yang mempunyai kandungan virus Corona.

Berikut lebih dari satu fakta mengenai vaksin COVID-19 yang harus diketahui, yang dikutip dari CDC.

1. Vaksin COVID-19 tidak menyebabkan seseorang terinfeksi virus Corona
Faktanya, tidak tersedia vaksin COVID-19 yang resmi direkomendasi atau vaksin COVID-19 yang saat ini dikembangkan di Amerika Serikat mempunyai kandungan virus hidup yang menyebabkan COVID-19. Artinya, vaksin COVID-19 tidak sanggup menyebabkan seseorang terinfeksi virus Corona.

Ada lebih dari satu type vaksin yang tengah dikembangkan. Semuanya mengajarkan proses kekebalan tubuh untuk mengetahui dan melawan virus yang menyebabkan COVID-19.

“Terkadang proses ini sanggup menyebabkan gejala, seperti demam. Gejala ini normal dan merupakan tanda bahwa tubuh tengah membangun bantuan pada virus penyebab COVID-19,” tulis CDC.

Biasanya diperlukan saat lebih dari satu minggu bagi tubuh untuk membangun kekebalan bantuan pada virus yang menyebabkan COVID-19 sehabis vaksinasi. Hal ini menyebabkan terdapatnya kemungkinan seseorang terinfeksi virus yang menyebabkan COVID-19 sebelum atau sehabis vaksinasi dan selalu sakit. Ini gara-gara vaksin belum miliki memadai saat untuk beri tambahan perlindungan.

2. Hasil tes virus Corona tidak positif sehabis vaksin
Beberapa vaksin yang diizinkan dan direkomendasi maupun vaksin COVID-19 lain yang saat ini di dalam uji klinis di Amerika Serikat, tidak sanggup menyebabkan hasil tes virus Corona positif.

Jika tubuh mengembangkan respons imun yang menjadi obyek vaksinasi, tersedia kemungkinan hasil tes positif pada lebih dari satu tes antibodi. Tes antibodi menyatakan seseorang dulu mengalami infeksi di awalnya dan bahwa Anda kemungkinan miliki tingkat bantuan tertentu pada virus.

Sementara itu, saat ini para pakar tengah menyaksikan bagaimana vaksinasi COVID-19 sanggup mempengaruhi hasil pengujian antibodi.

3. Orang yang sudah pulih COVID-19 selalu harus vaksin
Orang yang dulu tertular atau sudah pulih dari virus Corona harus selalu menekuni vaksin COVID-19. Hal ini gara-gara risiko kebugaran yang parah berkenaan bersama COVID-19 dan fakta bahwa infeksi ulang COVID-19 amat memungkinkan agar vaksin harus diberikan kepada orang yang sudah pulih dari virus Corona.

Saat ini para pakar belum mengerti hingga kapan seseorang terlindungi dari sakit ulang sehabis pulih dari COVID-19. Kekebalan yang diperoleh seseorang dari infeksi, yang disebut kekebalan alami, banyak ragam pada setiap orang.

Beberapa bukti awal menyatakan kekebalan alami kemungkinan tidak bertahan lama. “Kami tidak bakal mengerti berapa lama kekebalan yang dihasilkan oleh vaksinasi bertahan hingga kita miliki lebih banyak knowledge mengenai seberapa baik vaksin selanjutnya bekerja,” tulis CDC.

4. Vaksin COVID-19 menyebabkan tubuh terlindungi dari virus Corona
Vaksinasi COVID-19 bekerja bersama mengajarkan proses kekebalan bagaimana mengetahui dan melawan virus yang menyebabkan COVID-19. Ini menyebabkan vaksin sanggup menjaga tubuh dari infeksi virus Corona.

Terlindung dari penyakit itu amat penting, gara-gara walaupun banyak orang yang terinfeksi virus Corona cuma miliki penyakit ringan, masih banyak orang yang kemungkinan menderita penyakit parah, miliki pengaruh kebugaran jangka panjang, atau bahkan meninggal.

Tidak tersedia langkah untuk mengerti bagaimana COVID-19 bakal mempengaruhi tubuh, bahkan kecuali Anda tidak miliki peningkatan risiko komplikasi yang parah.

5. Vaksin COVID-19 tidak bakal membuat perubahan DNA
Vaksin mRNA COVID-19 tidak membuat perubahan atau berinteraksi bersama DNA bersama langkah apa pun. Vaksin RNA Messenger atau vaksin mRNA adalah vaksin COVID-19 pertama yang diizinkan untuk digunakan di Amerika Serikat.

Vaksin mRNA mengajarkan sel tubuh bagaimana menyebabkan protein yang menyebabkan respon imun. MRNA dari vaksin COVID-19 tidak dulu memasuki inti sel, tempat DNA disimpan.

Ini bermakna mRNA tidak sanggup mempengaruhi atau berinteraksi bersama DNA bersama langkah apa pun. Sebaliknya, vaksin mRNA COVID-19 bekerja bersama pertahanan alami tubuh untuk mengembangkan kekebalan pada penyakit bersama aman.

“Di akhir proses, tubuh kita sudah belajar bagaimana menjaga dari infeksi di era depan. Respon kekebalan dan pembuatan antibodi itulah yang menjaga kita dari infeksi kecuali virus yang sebenarnya memasuki tubuh kita,” tulis CDC.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *